ALT_IMG

Featured 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Januari 2012

PBNU Kecam Kekerasan Atas Nama Agama

0 komentar
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Agil Siradj (tengah) didampingi Ketua PBNU Arvin Hakim Thoha (kiri) dan Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Said Ali berbicara terkait aksi pembakaran pondok pesantren Syiah yang terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, saat jumpa pers di Kantor PBNU, Kramat Raya, Jakarta Pusat, Selasa (3/1). Dalam pernyataannya PBNU mengecam tindakan kekerasan berujung pada pembakaran sekolah, musala dan rumah pada Kamis 29 Desember 2011 yang mengatasnamakan agama.

MI/SUSANTO/pj
Sumber: Media Indonesia
Continue reading →
Jumat, 30 Desember 2011

POTRET KEBHINEKAAN DALAM DEMOKRATISASI DI INDONESIA

0 komentar
Perjalanantransisi demokrasi di Indonesia yang sudah memasuki 13 tahun terasa telahberada pada titik nadir. Indonesia sebagai negara majemuk, terdiri dariberbagai suku bangsa, agama maupun aliran kepercayaan semakin terancam olehtindak kekerasan atas nama agama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikalterterhadap penganut agama tertentu. Tindakan intoleransi, radikalisme,terorisme oleh kelompok tertentu dengan mengambil alih fungsi penegakan hukumitu jelas telah menjadi ancaman nyata integritas bangsa.
Negara terlihatbelum melaksanakan fungsi sebagaimana mestinya dalam menjalankan konstitusinegara.  Negara nampak tidak konsistendalam memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak atas kebebasanberibadah, beragama dan berkeyakinan bagi warganya. Kebhinekaan kita terganggudengan banyaknya peristiwa kekerasan terhadap masyarakat dalam menjalankankeyakinannya. Ketenteraman kita terusik dengan terjadinya kekerasan atas namaagama seperti tragedi Cikeusik, insiden Ciketing dan Taman Yasmin, peristiwaAmbon serta bom bunuh diri Masjid Polres Cirebon dan  GBIS Solo.
Tidak berlebihanjika Lembaga Studi dan Advokasi masyrakat (ELSAM)  mengatakan bahwa tahun 2011 merupakan TitikNadir Perlindungan HAM. Alih-alih memberikan perlindungan, pemerintah malahmenjadi pelaku utama dan ikut terlibat dalam pelanggaran HAM. Jika dibandingtahun sebelumnya, kondisi kebebasan beragama pada tahun 2011 ini tidakmenunjukkan gejala yang lebih baik. Malah, awal 2011 bisa disebut sebagaiperiode paling gelap bagi perlindungan kebebasan beragama di Indonesia. Padabulan Februari 2011 sejumlah orang meninggal akibat gagalnya negara melindungiwarganya. Setelah tragedi Cikeusik ini, tercatat sedikitnya 12 pelanggaran terhadap kebebasan beragama jugaterjadi, disusul bulan Maret dengan 11 kali pelanggaran
Dari mulaiintimidasi hingga pengrusakan rumah ibadah, tercatat telah terjadi 63 kasus pelanggaran atas hak dan kebebasanberagama pada tahun ini. Sebanyak 12 kali kasus pelanggaran dilakukan oleh Pemda, 13 oleh warga masyarakat, 10kasus dilakukan oleh massa Front Pembela Islam (FPI) dan 9 kasus pelanggarandilakukan oleh Polri. Tindak pelanggaran ini belum termasuk pelanggaran yangberbentuk kebijakan. Dalam konteks ini, pemerintah justru mempromosikan danmendukung sejumlah regulasi yang melanggar hak kebebasan beragama. Setidaknyasudah 11 regulasi daerah yang bertentangan dengan hak kebebasan beragama, 9 diantaranyamengatur Ahmadiyah dan 2 diantaranya mengatur aliran keagamaan yang dianggapmenyimpang.
Tentunya tindakan kekerasan dan berbagai bentuk tindakan intoleran ini akanmenimbulkan efek sosial dan menimbulkan pertanyaan penting: sejauh manapenghormatan akan perbedaan dan kebebasan beragama bisa tetap terjaga danterjamin (terlindungi) sebagai sebuah kebanggaan dan kekayaan bangsa ini?Pemerintah dan aparat penegak hukum terlihat melakukan pembiaran atas tindakkekerasan yang menghalangi kebebasanberagama dan nampak abai dalam tugas-tugasnya.
Untuk itu kamidari koalisi masyarakat sipil dari JKLPK (Jaringan Kerja Lembaga PelayananKristen di Indonesia), P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat),AMAN Indonesia (The Asean Muslim Action Network) menyampaikan sikapkeprihatinan atas situasi tersebut dan kami menyerukan :
  1. Negara harus bersikap tegas dalam menjamin serta melindungi secara penuh, kebebasan serta kemerdekaan setiap warga negara untuk memeluk dan menjalankan keyakinannya sesuai amanat konstitusi.
  2. Negara harus meninjau ulang seluruh regulasi yang diskriminatif dan membelenggu hak kebebasan beribadah, beragama dan berkeyakinan.
  3. Negara harus mengusut tuntas dan bertindak tegas  kepada pihak-pihak yang menganggu ketentraman masyarakat.
  4. Transisi Demokrasi yang damai sesuai dengan nilai-nilai demokrasi dan prinsip-prinsip kebhinekaan.

Jakarta, 20 Desember 2011
Kami Penyelengara :
Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M)
JaringanKerja Lembaga Pelayanan Kristen di Indonesia (JKLPK)
TheAsean Muslim Action Network (AMAN Indonesia)

Continue reading →
Sabtu, 24 Desember 2011

Puisi "busyyeett" hingga Jamasan Insan Gus Yusuf

0 komentar

Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin melangkah secara santun memasuki arena Suran Tegalrejo 2011 bertajuk Jamasan Insan, tradisi rintisan Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, pimpinan Kiai Haji Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf).

Para santri pondok pesantren (ponpes) setempat sejak tiga tahun terakhir merintis tradisi untuk merayakan tahun baru dalam kalender Jawa, Sura, yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan "Suran".

image: cakrawala sena [freshfluo]
Di ruangan terbuka untuk transit para undangan khusus di pojok arena pergelaran Suran Tegalrejo, di tepi Jalan Raya Magelang-Kopeng itu, duduk bersila antara lain budayawan Magelang Soetrisman, penyair Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya) dan Dorothea Rosa Herliany (Magelang), Koordinator Komunitas Seniman Borobudur Indonesia (KSBI) Umar Chusaeni.

Selain itu, dalang wayang suket kelahiran Tegal, Slamet Gundono dan guru spiritual gerak yang juga pengelola Padepokan Lemah Putih Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar Suprapto Suryodarmo, penyanyi tembang sufistik berasal dari Ponpes Asy-Syahadah Gunung Lawu Candra Malik dan pengajar tari Universitas Negeri Yogyakarta Wenti Nuryani.

Aneka makanan tradisional seperti getuk, nagasari, nasi kuluban, dengan minuman teh dan kopi panas tersaji di deretan dua meja di ruang untuk undangan khusus tersebut.

Seniman teater Kota Magelang Gepeng Nugroho bersama sejumlah lainnya yang tiba beberapa saat pergelaran itu dimulai, duduk bersila, bergabung dengan masyarakat umum baik lelaki, perempuan, anak-anak dan pemuda. Di atas terpal plastik yang mengelilingi panggung itu.

Pengajar tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Joko Aswoyo seakan menghindar untuk duduk bersama para undangan khusus. 

Ia yang berbaju koko warna putih dan mengenakan peci hitam itu terlihat mondar-mandir menikmati suasana eksotik arena Suran itu sambil berbincang dengan relasinya di KLG. 

Joko Aswoyo juga bertemu dan berbincang sebentar dengan seorang lulusan ISI Surakarta berasal dari Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang, yang kini mengajar tari di SMP Negeri 4 Kota Magelang Titik Sufiani.

Gus Yusuf yang malam itu mengenakan surjan warna putih dan belangkong hitam khas itu, hilir mudik mendekati dan menyapa setiap orang yang masuk lokasi Suran yang terkesan bernuansa eksotik tersebut.

Para petinggi seniman petani Komunitas Lima Gunung Magelang (Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh) mengenakan pakaian adat Jawa antara lain surjan, bebet, dan belangkon, dengan keris terselip di punggungnya, sedangkan seniman perempuan berkebaya aneka motif dan berjilbab. 

Mereka berdiri berderet dan saling berhadapan dengan tatanan properti lilin bertudung kertas minyak warna kuning di tengah jalan masuk lokasi Suran, menyambut secara hormat dengan menyalami setiap tamu.

Musik tradisional shalawat Jawa Surah Nabi dimainkan 22 seniman grup Donoroso Mekarsari Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, di lereng Gunung Merbabu pimpinan Yosodipuro (62) dari panggung pengiring berukuran 48 meter persegi dengan instalasi dari tatanan dedaunan dan batang pepohonan kering membentuk dua gunungan raksasa.

Mereka memainkan tembang-tembang shalawat beriring tabuhan lima alat musik Islami, terbang, dengan syair antara lain Pengajabsih, Dhandanggula, Kinanti, dan Pangkur, seakan turut menyambut kedatangan para tamu dan masyarakat umum di arena dengan panggung pementasan berkarpet warna hijau, rajutan batang pohon jagung, dan lampu sorot aneka warna tersebut di bawah tenda cukup besar.

Langkah kaki Zaenal yang malam itu mengenakan baju koko warna putih dengan berpeci hitam dihentikan Arwanto, salah seorang penerima tamu. Lelaki muda anggota KLG Magelang itu menggunakan siwur, mengambil air dari satu di antara tiga gentong yang masing-masing bertuliskan tiga baris kalimat berbahasa Arab, kemudian meminta Wabup Zaenal menjulurkan kedua tangannya guna dibasuh.

Setiap tamu undangan khusus menjalani prosesi membasuh tangan dari air gentong itu, ketika memasuki arena Suran Tegalrejo. Dua seniman yakni Arwanto dan Ismanto secara hormat membasuh mereka satu per satu, yang rupanya sebagai simbol atas prosesi Jamasan Insan Suran Tegalrejo 2011.

"Delapan menit lagi kita mulai, sesuai rencana (pukul 20.15 WIB, red.)," kata Riyadi, pengatur acara Suran Tegalrejo, tatkala berkoordinasi di dekat panggung dengan dua pembawa acara Endah Pertiwi dan Gus Kholil, beberapa saat sebelum mulai pergelaran tradisi Suran Tegalrejo itu.

Para tamu undangan berpindah tempat bersila dari ruangan khusus mereka di dekat jamuan malam ke karpet di dekat panggung, sedangkan ratusan masyarakat umum yang sebelumnya berdiri di tepi arena pun merangsek duduk bersila dan sebagian lagi berdiri, di dekat panggung setinggi 20 centimeter, ketika belasan anak penari Geculan Bocah memulai memainkan tariannya pada pergelaran Suran Tegalrejo itu. Beberapa nomor gerak tari Geculan Bocah membuat para penonton berurai tawa.

Hujan yang sempat dikhawatirkan panitia turun saat mereka menggelar tradisi Suran, disebut Riyadi yang juga pemimpin Padepokan Warga Budaya Gejayan, di lereng Gunung Merbabu itu, sebagai "kalis" (tidak mempan), meskipun mendung tebal menggantung di langit kawasan Ponpes API Tegalrejo.

Zaenal dari tempatnya bersila tampak melambaikan tangan kanannya, tanda memanggil Atika yang baru saja turun panggung, selesai membaca puisi karyanya berjudul "Busyyeett.....!!!!". Atika adalah gadis remaja korban banjir lahar Gunung Merapi melewati alur Sungai Putih, warga Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, dan siswi SMP Negeri 2 Salam.

Puisi "Busyyeett.....!!!!" itu terdiri atas lima bait. Kata "busyyeett" yang dimaksud Atika, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tertulis "buset", yang artinya makian lembut untuk menyatakan umpatan dan keheranan.

Busyyeettku adalah desisan gadis kecil yang ingin jadi penyair. Yang terlahir sebagai ulat bulu yang menakutkan, menjijikkan, dan menggelikan. Hingga tak layak untuk berkawan.

Busyyeettku adalah ulat yang ingin jadi kepompong. Bertahun tahun aku jalani. Jadi kurir di usia dini. Jadi pengajar baca tulis di keluarga pemilik duit. Dan mengumpulkan jilid demi jilid untuk memenuhi tas ilmuku.

Busyyeettku adalah terima kasih pada bintang. Yang bersinar terang di atas lima gunung, yang menawan. Yang membantuku bermetamorfosis. Hingga menjelma menjadi butterfly nan elok dan rupawan. Walau kepakan sayapku tak seindah ekor si burung merak. Tapi sangat berharga, tak terbatas.

Busyyeett.....!!!! Busyyeettku adalah gadis kecil yang ingin jadi penyair. Yang terlahir dari kasta yang terakhir. Yang ingin terbang walau tak setinggi bintang. Tapi ikut mewarnai kehidupan, hingga tak sia-sia adanya.

Busyyeett. Gadis kecil itu kini menjelma. Menjadi kupu-kupu yang bisa menyeberangi sungai lahar yang menakutkan. Terbang ditemani sinar kunang-kunang. Menari riang di atas awang-awang. Busyyeett.....!!!!

"Tadi aku ditanya (Oleh wabup, red.), desaku, sekolahku, kelas berapa, bapakku," kata Atika yang mengenakan baju Islami motif bunga dan berjilbab warna oranye, usai pergelaran hingga nyaris tengah malam itu.

Sutanto Mendut, pemimpin tertinggi KLG Magelang yang berpidato kebudayaan di panggung dengan properti 20 penari kontemporer gunung Gupolo Gunung yang masing-masing di dalam kurungan ayam malam itu memperkenalkan Atika sebagai anak cerdas secara alamiah dari tepi Kali Putih, selalu berprestasi di sekolahnya, dan setiap hari membantu ibunya membuat camilan tradisional seperti permen tape, permen sirsak, jenang dodol, krasikan, dan wajik bandung di desanya yang kini telah rusak akibat terjangan banjir lahar. 

Atika yang hidup bersama ibunya karena ayahnya meninggalkannya sejak kecil itu, selama sekitar delapan bulan, sejak awal 2011, harus mengungsi karena desanya terkena terjangan banjir lahar Gunung Merapi melalui Sungai Putih.

"Jamasan Insan ini adalah jamasan manusia, jamasan hak asasi manusia. Kalau wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW itu `iqra` bukan semata-mata untuk membaca manusia secara kasat mata dari segumpal darah. `Iqra` isinya tentang pesan pendidikan dan kebudayaan yaitu membaca dan menulis. Bahwa kita ini manusia yang bukan istimewa, yang suka memvonis, mengadili, atau memutuskan surga dan neraka," kata Tanto Mendut yang juga pengajar Program Pascasarjana ISI Yogyakarta itu.

Sebelum para penari keluar dari kurungan ayam masing-masing dan mempersembahkan tarian Gupolo Gunung, simbol penjagaan kelestarian lingkungan gunung dan desa, grup musik Warga Budaya Gejayan mengiringi lantunan shalawat solo "Iqra" yang dibawakan seorang penembang Sismanto, dengan tabuhan lembut bende, kenong, dan gong.

Pada pergelaran tradisi Suran Tegalrejo bertajuk "Jamasan Insan" selama sekitar 2,5 jam itu, Candra Malik membawakan tiga tembang bernada sufistik dengan iringan gitar akustik, masing-masing berjudul Shiratal Mustaqim, Fatwa Rindu, dan Jiwa yang Tenang.

"Kita pikirkan kemana kita pulang. Ke Allah, tentu rindunya luar biasa. Rindu kita semua kepada Allah," kata Candra sebelum menembangkan lagu kedua berjudul Fatwa Rindu.

Acep Zamzam Noor membacakan dua syair masing-masing berjudul Ode untuk Penyanyi Dangdut dan Ada Banyak Cara, sedangkan Slamet Gundono menggunakan gitar mininya, berkolaborasi dengan pemetik gambus Habib Mustofa Al Habsi dan performa Suprapto Suryodarmo, memainkan repertoar Gambus Jawa.

Selain itu, belasan santri Ponpes API Tegalrejo dengan pemimpin grup Shollahudin Al Ahmed menyuguhkan tembang Syi`ir Tanpo Waton yang merupakan karya guru bangsa, Kiai Haji Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

"`Kabeh tinakdir saking Pengeran. Kelawan konco dulur lan tonggo. Kang podho rukun ojo dursilo. Iku sunahe Rosul kang mulyo. Nabi Muhammad panutan kito. Ayo nglakoni sakabehane. Alloh kang bakal ngangkat drajate. Senajan asor toto dhohire. Ananging mulyo maqom drajate`," demikian salah satu syair yang mereka lantunkan dalam iringan tabuhan musik terbang itu.

Shollahudin mengartikan kalimat tembang berbahasa Jawa itu antara lain bahwa takdir berasal dari Tuhan sehingga terhadap teman, saudara, dan tetangga harus rukun dan jangan bertengkar. Hal itu juga sebagai sunah Rasul, Nabi Muhammad, teladan umat yang harus dijalankan. Allah mengangkat derajat manusia. Walaupun manusia tampilan fisiknya rendah, derajat spiritualnya mulia di hadapan Allah.

Gus Yusuf menyebut tradisi Suran Tegalrejo 2011 bertema Jamasan Insan dengan pergelaran berbagai karya seni dan budaya itu mengajak setiap individu menyadari hakikat kemanusiaannya.

"Senang saya malam ini dengan Jamasan Insan. Ini malam jamasan, kita terkadang melihat manusia, yang `disawang` (dipandang) `dedeg e` (tinggi badan atau fisiknya) manusia, tetapi kelakuannya seperti hewan, penindasan, petani digusur, disakiti, dibantai, banyak saudara-saudara kita tidak bisa makan karena jatahnya dikeruk orang kaya yang tidak puas dengan kekayaannya. Korupsi makin menjadi, panutan tak bisa jadi panutan," katanya.

Jamasan Insan, katanya, dorongan kesadaran terhadap setiap individu untuk membersihkan diri menjadi berhati mulia dan kembali sebagai manusia yang berlimpahkan cinta dan kasih sayang.  (M029*H018/Z002)
Editor: B Kunto Wibisono
Sumber: Antara News
Continue reading →
Senin, 28 November 2011

Pesantren Semakin Terbuka

0 komentar
Sleman – Pondok Pesantren (Ponpes) semula hanya dipahami sebagai lembaga untukmempelajari mengenai agama. Dewasa ini, pengertian Ponpes semakin terbuka,karena lembaga ini juga memasukan unsur pendidikan dan pengajaran umum.
Dalam SarasehanPimpinan Pondok Pesantren se-DIY, Pengasuh Ponpes Mahasiswa Ali Maksum,Krapyak, Abdul Ghofur Maemun, Pakar Ilmu Tafsir Waryono Abdul Ghafur sertaPengasuh Ponpes Hamfara Muhammad Ismail Yusanto berbagi mengenai perkembanganPonpes di DIY.
Menurut ketiganyasaat ini Ponpes berkembang semakin luas karena turut berbagi mengenai berbagaiilmu yang berguna bagi masyarakat. Adapun, salah satu pendidikan yang kinidiperkenalkan ialah memperbaharui kurikulum ponpes dan mengajarkan usaha-usahaekonomi produktif.
Ismailmenjelaskan dengan perkembangan tersebut, muncul berbagai perspektif penafsiran.Untuk itu dialog seperti ini sebaiknya rutin dilakukan agar terjadi komunikasiyang strategis sehingga tidak timbul konflik. "Jika UIN bisa memfasilitasipertemuan seperti ini secara rutin akan baik adanya," kata dia diLaboratorium Agama Masjid Sunan Kalijaga siang ini.
(JIBI/Harjo/Edi)
Sumber: Solo Pos dot Com, 29 November 2011
Continue reading →
Jumat, 25 November 2011

Said Aqil: Revolusi Perilaku Korupsi Melalui Semangat Hijriyah

0 komentar
Said Aqil: Revolusi Perilaku Korupsi Melalui Semangat Hijriyah
Said Aqil Siradj
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pemimpin dan masyarakat Indonesia seharusnya dapat menjadikan momentum tahun baru hijriah sebagai usaha untuk melakukan perbaikan. Perilaku korupsi yang sudah melekat dengan pejabat dan birokrat di negeri ini harus dapat direvolusi secara moral melalui semangat dalam menyambut 1 Muharam 1433 H.

Demikian pendapat Ketua Pengurus Besar Nadhatul Ulama (NU), Said Aqil Siradj. ''Kita umat Islam yang pernah punya sejarah gemilang, seharusnya bisa mengembalikan lagi semangat tamadun yang pernah dibangun oleh Rasulullah,'' kata Said Aqil

Kang Said, demikian sapaan Said Aqiil, datangnya tahun baru Hijriah seharusnya bisa dijadikan momentum oleh umat Islam untuk bisa memperbaiki diri. ''Kalau masih ada pejabat atau pemimpin Muslim masih korupsi maka hal itu sama saja mencoreng martabat umat Islam secara keseluruhan,'' ujarnya.

Ia mengajak para pemimpin di negeri ini untuk melakukan intropeksi diri terhadap segala perilaku korupsi. Namun demikian, ia juga menyerukan agar pemimpin dan umat Islam tetap optimis menatap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Lebih lanjut Kang Said mengatakan, hikmah lain yang terkandung dalam hijrah Rasulullah ke kota Yastrib adalah beliau membangun peradaban, budaya, moral serta kebersamaan. Selain itu Rasul menata tatanan kehidupan di tempat baru itu dengan menjunjung hukum di atas segalanya. ''Jadi marilah kita berbenah diri,'' katanya.


Redaktur: Johar Arif
Reporter: M Akbar
Continue reading →
Selasa, 22 November 2011

Pesantren Bukan Akar Radikalisme

0 komentar

facebook.com/pages/I-LOVE-AL-ZAYTUN
Ilustrasi : Pondok Pesantren AL Zaytun di Desa Mekarjaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
JAKARTA, KOMPAS.com - Setara Institute mengungkapkan dari hasil survei di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum 1.200 responden menganggap pesantren bukan tempat persemaian gerakan Islam radikal. Hal ini diungkapkan melalui pendapat 63,6 persen responden di wilayah tersebut yang menyatakan pesantren bukan akar dari radikalisme.
Seandainya pun terdapat pesantren yang dijadikan basis persemaian gerakan Islam radikal, jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan pesantren pada umumnya
-- Bonar Tigor Naipospos

"Seandainya pun terdapat pesantren yang dijadikan basis persemaian gerakan Islam radikal, jumlahnya tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan pesantren pada umumnya," ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, di Jakarta, Senin (21/11/2011).
Hanya sebagian kecil responden yaitu 10,2 persen yang memandang bahwa terdapat pesantren tertentu yang digunakan kelompok Islam radikal sebagai akar pembentukannya. Kata Bonar, persoalan yang kemudian muncul bukan terletak pada kecilnya jumlah pesantren berbasis radikal. Namun, terletak pada kenyataan bahwa masih adanya sejumlah pesantren yang mengajarkan nilai-nilai radikalisme.
Saat ini sendiri, menurut Bonar, kelompok radikal 34,7 persen tengah gencar mencari pengikutnya. Selain itu, sebanyak 42,9 persen masyarakat responden menilai, pergerakan kelompok radikal dilakukan secara tertutup. Sebanyak 6,4 persen anggota masyarakat juga menilai bahwa kelompok Islam radikal mengombinasikan metode terbuka dan tertutup untuk menjalankan aktivitasnya.
Sarana kelompok radikal untuk menyebarkan pesan radikalisme, menurut Setara, 23,9 persen dilakukan melalui forum pengajian. Sedangkan 9,1 persen melalui ceramah umum dan 6,9 persen melalui brosur maupun selebaran.
"Materi pesan yang digencarkan terutama mengenai anti kemaksiatan sebesar 24,2 persen dan negara berdasarkan syariah Islam sebesar 21,7 persen," terangnya.
Dengan pesan-pesan tersebut, kata Bonar, sebesar 26,8 persen orang percaya akan gerakan radikal. Sisanya mengikuti gerakan ini karena faktor ketidakadilan ekonomi sebesar 13,4 persen, problem psikologis sebesar 11,3 persen dan tidak setuju dampak buruk budaya barat sebesar 7,2 persen.

Sumber: Kompas
Continue reading →
Kamis, 17 November 2011

Warga NU Gelar Kirab Revolusi Jihad

0 komentar

foto
REUTERS/Supri

Surabaya - Sekitar 300 warga Nahdlatul Ulama yang terdiri dari kalangan pesantren, pengurus NU tingkat pusat hingga daerah, dan beberapa badan otonom NU, Minggu, 20 November 2011, akan menggelarKirab Resolusi Jihad NU. Perserta kirab melakukan perjalanan dari Surabaya menuju ke Jakarta. "Kirab memakan waktu enam hari lima malam,” kata Koordinator Kirab, Imam Nahrowi, ketika menggelar keterangan pers Jum’at sore, 18 November 2011.

Kirab dimulai pukul 09.00 WIB dari halaman kantor DPC NU Kota Surabaya di Jalan Bubutan. Di tempat ini para ulama NU merumuskan Resolusi jihad NU yang dicetuskan 25 Oktober 1945. Rsolusi tersebut menjadi pelecut semangat perjuangan memerangi Belanda yang membonceng Inggris untuk menyerang Surabaya.

Peserta kirab akan membawa tiga bendera, yaitu bendera merah putih, bendera NU, serta bendera mu'tabarah an-nahdliyah (thoriqoh yang dianut warga NU). Ketiga bendera itu menjadi benda sakral karena melewati proses penyucian.

Sembilan orang penghafal Al-Qur’an membawa ketiga bendera itu untuk didoakan di seluruh makam Wali Songo, yakni dari Sunan Gunung Jati, Sunan Kali Jaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Gresik, Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, dan Sunan Ampel.

Di seluruh makam itu, sembilan hafid (penghafal al-quran) membacakan doa-doa khusus sehingga tiga bendera benar-benar sakral dan suci. Tiga bendera itu juga didoakan secara khusus di makam Kiai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di komplek Pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Proses pembacaan doa khusus bagi tiga bendera tersebut telah dimulai Kamis, 10 November 2011, dan hari ini sembilan penghafal quran sudah berada di Makam Gus Dur untuk terus berdoa hingga Minggu, 20 Novembre 2011. "Dari Jombang tiga bendera itu akan diambil oleh Ketua PBNU Kiai Said Aqil Siroj, Pak Muhaimin, serta beberapa kiai sepuh," ujar Imam Nahrowi. Dari Jombang, tiga bendera di bawa ke Surabaya untuk kemudian dikirab menuju ke Jakarta.

Jalannya kirab akan dilakukan estafet. Dimulai oleh pengurus NU Surabaya yang akan membawanya hingga ke kantor PCNU Gresik. Kemudian pengurus NU Gresik membawanya ke Lamongan, dilanjutkan ke Tuban, kemudian masuk Jawa Tengah hingga akhirnya finis di Tugu Monas. Di Monas akan digelar istiqosah dan diakhiri dengan membawa tiga bendera itu ke Kantor PBNU.

Semula, kirab dirancang dilakukan dengan jalan kaki. Kerena kondisi yang tidak memungkinkan, kirab akan digelar dengan menggunakan mobil. Namun sesekali peserta akan jalan kaki sekitar satu kilometer menjelang perbatasan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya.

Imam Nahrowi menegaskan, kirab dilakukan sebagai bentuk sosialisasi dan internalisasi semangat Resolusi Jihad kepada seluruh elemen bangsa. "Peristiwa resolusi jihad cenderung dilupakan, ini momentum untuk kembali mengingatkan arti pentingnya resolusi jihad," paparnya.

Adapun doa yang dipanjatkan sembilan penghafal Al Qur’an di sembilan makam Wali Songo serta makam Gus Dur, dimaksudkan juga untuk mendoakan bangsa Indonesia segera menuju bangsa yang makmur, adil dan beradab.

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Sumber: Tempo.co
Continue reading →
Kamis, 10 November 2011

KH Rukhiyat Kembali Diajukan Jadi Pahlawan Nasional

0 komentar

TASIKMALAYA, (PRLM).- Meskidinilai tidak memenuhi syarat oleh Kementerian Sosial RI, pemerintah Kab.Tasikmalaya berharap alm KH Ruhiyat pendiri Pondok Pesantren CipasungSingaparna dapat dinobatkan sebagai pahlawan nasional layaknya KH ZaenalMustafa, rekan seperjuangan KH Ruhiyat.
Saat ini, pemerintah Kab.Tasikmalaya masih menunggu hasil penelitian dari tim peneliti pengkaji gelardaerah (TP2GD). Hal itu setelah mendapat tembusan surat resmi jawaban pengajuanpahlawan nasional dari Kementrian Sosial RI pada 4 Desember 2010 lalu yangditujukan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Sekertaris Dinas SosialKependudukan dan Tenaga Kerja Kab. Tasikmalaya, Ani Risamurti mengatakan,berdasarkan surat resmi Kemsos RI melalui Direktorat Jenderal pemberdayaansosial dan penanggulangan kemiskinan menyatakan, usulan pahlawan nasional untukAlm KH Ruhiyat tidak memenuhi syarat untuk dijadikan pahlawan nasional.
Saat itu ia menunjukan suratbernomor 776/PSPK/XII/2010 perihal hasil pengusulan calon pahlawan nasionaltahun 2010 atas nama KH Ruhiyat. Di dalamnya antara lain dijelaskan data yangdiusulkan perihal kiprah dalam pendidikan agama belum terlihat kontribusi yangmenonjol di tingkat Nasional.
Terdapat data yang salah mengenaiperjuangannya sehingga perlu dikaji kembali. Dan perjuangan KH Ruhiyat barusebatas untuk kemajuan masyarakat sekitar Cipasung dan belum ada kajian secaraakademisi.
"Atas kekurangan tersebutmereka (Kemensos) menginstruksikan gubernur untuk melengkapi kekurangan yangdisebutkan di dalam berkas tersebut," katanya yang ditemui di ruangkerjanya, Rabu (9/11).
Ia berharap proses pemberianpenghargaan terhadap KH Ruhiyat segera terrealisasi meskipun pada pengalamansebelumnya, ketika KH Zaenal Mustafa diusulkan jadi pahlawan nasional perluwaktu selama 40 tahun. KH Zaenal mustafa diusulkan pada tahun 1970 dandinobatkan sebagai pahlawan nasional pada tahun 2010 lalu.
Menurut Ani, apabila KH Rukhiyatdinobatkan sebagai pahlawan nasional maka cita-cita warga Kab. Tasikmalayaterwujud. Diharapkan hal itu akan menjadi contoh tauladan bagi generasi mudasaat ini dan menginspirasi masyarakat lainnya untuk menemukan sosok pahlawan dibidang lainnya.
Sementara itu, cucu dari alm KHRuhiyat, Acep Zamzam Noor mengatakan, keluarga tidak bermasalah denganpenolakan usulan gelar kepahlawanan terhadap kakeknya tersebut. Ia menilai,penelitian yang dilakukan kemungkinan belum dalam. Meski demikian, ia berharapkakeknya diakui sebagai pahlawan nasional berhubung ia merupakan temanseperjuangan KH Zaenal Mustafa. Selain itu bukti perjuangannya pun nyata dibidang agama dan pendidikan.
"Kami mengharapkan adapenelitian lebih jauh karena kita lihat perjuangannya. Akan tetapi hal itu kamiserahkan kepada pandangan yang menilai," katanya.
KH Ruhiyat merupakan pendiripesantren yang dibangunnya pada 1931. Saat ini Pesantren Cipasung itu kerapdigunakan sebagai sarana belajar masyarakat hingga banyak menciptakan banyakulama besar di Jawa Barat dan Indonesia. Sikap yang santun serta semangatkebangsaan yang tinggi kerap memacu sikap patriotisme di kalangan santri danmasyarakat pada saat itu untuk melawan penjajah Belanda. (A-183/das)***

Continue reading →
Rabu, 09 November 2011

Radikalisme Masuk Perguruan Tinggi Favorit

0 komentar
JAKARTA, (PRLM).- Kepala BadanNasional Penanggulangan Terorisme, Ansyaad Mbai, menyatakan pihaknya mendapatlaporan dari sejumlah perguruan tinggi terkait masuknya radikalisme dilingkungan kampus. Menurutnya saat ini radikalisme juga telah masuk ke dalamperguruan tinggi berkualitas baik dan favorit seperti Universitas Indonesia danInstitute Teknologi Bandung.
Isu radikalisme yang mengintaikampus favorit di Indonesia ini, menurut Ansyaad, juga bukan hanya ditengaraiterjadi pada fakultas agama atau kegiatan rohani saja. Tetapi juga masuk kefakultas eksakta semacam Teknik dan MIPA."Radikalisme itu ternyata lebihmarak di lingkungan pendidikan umum khususnya di Perguruan Tinggi Favoritdaripada pesantren", kata Ansyaad Mbai.
"Ada berbagai cara masuk kesitu. Yang pertama, dengan keterbukaan informasi. Sekarang menggunakan mediacepat sekali (menyebarkan inforrmasi), tanpa harus (bertemu) orangnya (secarafisik) masuk kekampus itu. Jadi informasi-informasi tentang agenda-agendakelompok radikal bisa masuk disitu. Yang kedua, memang sudah ada kader-kadermereka di dalam (perguruan tinggi) itu sendiri," tambahnya.
Ansyaad Mbai menyatakan saat inidi lingkungan kampus, radikalisme menjadi gagasan baru dalam ruang diskusibebas setelah Pancasila bukan lagi menjadi isu sentral. Radikalisme itumenyusup ke lingkungan kampus dengan memanfaatkan ketidakpuasan mahasiswa terhadapkinerja pemerintah.
Ansyaad mengungkapkan ideologiradikalisme ini berkembang akibat minimnya kegiatan organisasi kemahasiswaan.Organisasi kemahasiswaan semacam BEM, HMI, dan KAMMI dinilai sudah tidak aktiflagi dalam dua tahun terakhir. "Kalau dulu kegiatan ekstrakulikulerterstruktur. Mahasiswa disibukkan dengan kegiatan ekstrakulikuler yangdikontrol oleh perguruan tinggi. Misalnya dulu ada pendidikan tentang kewiraan,Pancasila dan sebagainya. Setelah reformasi itu semua menghilang (sehingga) kemudianmasuk agenda-agenda baru dari kelompok radikal," demikian pemaparan kepalabagian penanggulangan terorisme, Ansyaad Mbai.(voa/A-147)***

Sumber: Pikiran Rakyat 
Continue reading →

Kerukunan Beragama, Umat Kristen Ikut Bagikan Daging Kurban

0 komentar

YOGYAKARTA (Suara Karya):Sejumlah biarawan dan biarawati bersama 50 umat Katolik lereng Merapi membantuumat Muslim setempat dalam memotong-motong daging kurban dan membagikannyakepada sekitar 6 ribu kepala keluarga (KK) di lereng selatan gunung tersebut,
Pengasuh Pondok PesantrenAl-Qodir, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Sleman-DIY, KH Masrur Ahmad MZmenjelaskan, penyembelihan 200 ekor kambing kurban itu baru dilakukan padaSelasa siang agar tidak terjadi penumpukan daging korban di rumah penduduk.
"Penyembelihan hewan korban'kan biasanya dilakukan pada hari 'H'. Maka, agar tidak tidak terjadipenumpukan daging korban, maka kami lakukan sekarang," kata Kiai Masrursaat ditemui di sela-sela penyembelihan hewan korban di lapangan desa setempat,Selasa (8/11) kemarin.
Pelaksanaan kurban tahun 1432Hijriyah oleh Ponpes Al-Qodir kali ini juga bertepatan dengan peringatan satutahun musibah erupsi Merapi.
Ia menjelaskan, 200 kambingkorban yng disembelih tersebut merupakan sumbangan masyarakat muslim di Singapura.Pelaksanaan kurban di Ponpes Al-Qodir ini selain dibantu ibu-ibu dari GerejaParoki Pakem dan Babadan, juga melibatkan umat Kristen dari Gereja Kristen Jawa(GKJ).
"Untuk penyembelihan hewankurban memang dilakukan umat Muslim. Tetapi untuk memotong-motong danmembungkus ke kantung plastik serta membagikan pada warga lereng Merapi, itudilakukan para santri, masyarakat Wukirsari dan dibantu para suster, pastorserta umat agama lain," jelasnya.
Menurut Masrur, keterlibatan umatnon-Muslim ini untuk menunjukkan kerukunan, kebersamaan dan damai dalamkehidupan bermasyarakat. "Sikap gotong royong ini perlu dipupuk dandilestarikan agar kehidupan menjadi lebih indah," katanya.
Salah seorang biarawati dariKongregasi Fransiskanes Santa Elisabeth (FSR) mengaku baru kali ini terlibatdalam pemotongan daging kurban.
"Kami diajak ibu-ibu Katolikterjun di sini untuk membantu saudara kita Muslim. Saya senang-senangsaja," ucap Sr Winanda FSE yang tengah KKN di wilayah Pakem. (B Sugiharto)

Sumber: Suara Karya
Continue reading →
Selasa, 08 November 2011

Innalillahi, Istri KH Yusuf Hasyim Wafat

0 komentar

Keluarga besar Pondok Pesantren Tebu Ireng dan warga Nahdlatul Ulama Berduka. Istri KH. Yusuf Hasyim, Nyai Bariyah Yusuf Hasyim wafat Rabu, 9/11/11, dini hari.
Informasi ini disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH. Shalahudin Wahid. Kata beliau, almarhumah wafat Rabu dini hari pukul 2:00 WIB.
Nyai Bariyyah wafat setelah sakit selama tiga selama tiga minggu. Rencanannya almarhumah akan dimakamkan pada Rabu, 9/11/11, pagi ini.
Semoga dosa-dosa beliau diampuni dan amal baiknya diterima di sisi Allah SWT.
Keluarga Besar P3M, mengucapkan rasa berbelasungkawa yang sedalamnya. Al-Fatihah.
Continue reading →

Idham Chalid dari Negarawan Hingga Pahlawan Nasional

0 komentar

Alm. Idham Chalid (ANTARA/Jafkhairi)
 ... Sebagai Ketua NU yang menjabat cukup lama, beliau bisa menentramkan kegelisahan warga NU. Maka pantas jika Idham Chalid mendapat gelar Pahlawan Nasional..
Jakarta (ANTARA News) - KH Dr Idham Chalid merupakan salah seorang tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Yudhoyono mewakili pemerintah di Istana Negara, Jakarta, Selasa, atau dua hari menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November.

Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua MPR/DPR mendapat gelar Pahlawan Nasional karena dianggap berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

"Beliau cukup berjasa besar dan sudah berbuat banyak bagi bangsa dan negara. Sebagai Ketua NU yang menjabat cukup lama, beliau bisa menentramkan kegelisahan warga NU. Maka pantas jika Idham Chalid mendapat gelar Pahlawan Nasional," kata sejarawan dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Taufik Abdullah.

Keanggotaan NU dari sisi jumlah dan sebaran etnik pun geografis juga sangat besar di Indonesia. Ini juga yang diperhitungkan serius di mata pengelola negara dan para tokoh.

Idham Chalid adalah tokoh agama, tokoh bangsa, dan tokoh organisasi besar Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan juga deklarator sekaligus pemimpin Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pada saat-saat kepemimpinan putera Banjarmasin, Kalimantan Selatan, itulah gejolak politik Indonesia sedang hangat. 

Ada pergerakan masyarakat di berbagai provinsi menuntut kesetaraan status, pemerataan pembangunan, dan sebagainya. Banyak di antara pergerakan itu yang dianggap makar kepada Jakarta dan dihadapi secara militer.

Idham Chalid memiliki otak cerdas dan bakat orator yang luar biasa, itu terlihat sejak duduk di Sekolah Rakyat. Tak ayal ia pun sering mengalami akselarasi alias melompat naik kelas karena dinilai memiliki kecerdasan di atas rata-rata.

Masa pendidikan di SR hanya dilalui empat tahun. Begitu pula saat menempuh pendidikan di Pesantren Modern Gontor Ponorogo, ia berhasil lulus dua tahun lebih cepat dari kebanyakan santri lainnya.

Sejak berkiprah dari remaja, karier tokoh kelahiran Setui, Kalimantan Selatan 27 Agustus 1922 itu, di PBNU terus menanjak. Ketika NU masih bergabung dengan Masyumi (1950), ia menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang Kalimantan Selatan.

Sementara itu, ia juga menjadi anggota DPR RIS (1949-1950). Dua tahun kemudian, Idham terpilih menjadi Ketua Lembaga Pendidikan Ma'arif NU (1952-1956).

Kemudian, ia dipilih menjadi orang nomor satu NU pada 1956. Bahkan, Idham merupakan orang yang terlama menjabat Ketua Umum PB NU, selama 30 tahun.

Di bidang eksekutif, ia beberapa kali jadi menteri, baik saat masa Orde Lama maupun Orde Baru. Ketika Bung Karno jatuh pada 1966, ia menjadi anggota presidium Kabinet Ampera I dan Kabinet Ampera II dan setelah itu ia diangkat menjadi ketua MPR/DPR pada periode 1971-1977.

Sebelumnya, pada masa Kabinet Ali Sastroamidjojo II, ia juga menjabat sebagai wakil PM. Dalam posisi pemerintahan, beliau pernah juga mengemban tugas sebagai Ketua DPA.

Ulama besar NU itu juga merupakan tokoh yang telah berhasil mencetak banyak muballigh kondang termasuk Kiai Syukron Makmun dan KH Zaenuddin MZ, kata Saiful Hadi, salah seorang putra almarhum.

"Ayah memiliki banyak murid dari berbagai bidang. Di bidang tabligh sejumlah muballigh kondang berguru secara langsung ke ayah," kata Saiful Hadi yang juga Direktur Pemberitaan Perum LKBN ANTARA. Berlainan dengan sang ayah, keturunan KH Idham Chalid tidak seorang pun yang melanjutkan karir di bidang politik atau organisasi massa.

Idham Chalid meninggal dunia pada usia 88 tahun. Ia meninggal di kediamannya di kawasan pendidikan Darul Ma'arif, Cipete, Jakarta Selatan, Minggu 11 Juli 2010, pukul 08.00, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.

Ia dimakamkan Senin (12/7) di Pondok Pesantren Darul Quran, milik keluarga, di Cisarua, Jawa Barat. KH Dr Idham Chalid meninggalkan isteri, anak dan sejumlah cucu.

Bahkan sebagai tokoh yang berpengaruh, namanya ditabalkan menjadi nama Gedung Sekretariat serta Gedung Serba Guna di Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan pada 14 Agustus 2011. 
(D016)
Editor: Ade Marboen
Continue reading →
Minggu, 06 November 2011

Pesantren Ini Kurban Pakai Kerbau

0 komentar

Kerbau bule akan disembelih (Antara/ Wahyu Putro)

P3M - Berkurban dengan menyembelih kambing, domba, sapi atau unta sudah lazim dilakukan oleh umat muslim saat hari raya Idul Adha yang akan jatuh pada Minggu, 6 November.
Namun berkurban dengan kebau mungkin hanya segelintir umat Islam yang melakukannya. Salah satunya, Kiai HM Fuad Riyadi, pemilik pondok pesantren Roudlotul Fatihah, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kiai ini memilih kerbau untuk berkurban.

Dia mengatakan, kerbau dipilih sebagai penghormatan kepada umat Hindu yang tak membolehkan memakan sapi. "Pada saat Idul Adha, anda tahu ada Hindu yang tak mau memakan daging sapi," katanya di Magelang, Sabtu, 5 November 2011

Maka itu, Fuad mengatakan, pesantren ini akan terus menyembelih kerbau sebagai pengganti sapi. "Khusus besok, kami akan menyembelih tiga kerbau dan 20 kambing," paparnya

Selain itu, alasan lain memilih kerbau untuk kurban juga karena bercermin pada kebiasaan Sunan Kudus. Menurut Fuad, Sunan Kudus tak pernah mau menyembelih sapi, bahkan saat Idul Adha. Hal itu sebagai wujud toleransi beragama, yaitu menghargai keyakinan umat Hindu yang mengeramatkan sapi.

Fuad juga mengatakan, berkurban dengan kerbau juga didasarkan pada segi ekonomis. "Harga kerbau jauh lebih murah," katanya. (Laporan: Juna Sanbawa, Magelang | eh)

sumber: VivaNews

Continue reading →

Label