Jumat, 16 September 2011

Pesantren Tani, Roti, dan Sampah

0 komentar

Pondok pesantren Ashiriyyah yang berlokasi di Parung Bogor ini didirikan oleh Habib Saggaf Mahdi pada tahun 1998. Pembangunan pondok ini sebagai tanggapan Habib melihat jumlah pengangguran dan anak putus sekolah di lingkungan sekitar rumahnya. Ia percaya dengan pendidikan yang baik nasib kaum dhuafa bisa diperbaiki.

Pesantren ini dimulai dari balai bambu berukuran 3 X 4 meter yang masih ada sampai sekarang. Pada awalnya, ia cuma memiliki seorang santri namun dalam tempo delapan tahun jumlah santrinya mencapai 8.000 orang. Setiap tahun ajaran, 700-an calon santri ingin bergabung. Daya tampung pesantren sudah melebihi kapasitas, tapi ia tidak bisa menolak santri baru sambil menyatakan bahwa anak-anak tersebut sangat memerlukan pendidikan. Oleh karena itu, kalangan santri pesantren ini berasal dari keluarga miskin, warga tak mampu maupun remaja putus sekolah. Pemandangan menarik ketika bulan puasa tiba. Seluruh santri diliburkan kegiatannya sampai setelah hari raya Idul Fitri. Dan mereka juga diantar mudik secara gratis sampai ke kampung halamannya masing-masing. Bagi mereka yang berasal dari Jawa dan Sumatra memakai bus dan bagi yang berasal dari Ambon, Nusa Tenggara dan Kalimantan memakai kapal laut.

Habib lahir dari keluarga dengan tradisi Islam kuat, keinginannya mempelajari agama muncul setelah bertemu dengan ulama Bondowoso, Habib Soleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdar. Kepada Saggaf yang waktu itu baru berusia 14 tahun, Habib Soleh berpesan,”Kamu bisa menjadi ulama besar jika mau belajar.” Saggaf kemudian mondok di pesantren darul Hadits, Malang selama hamper 13 tahun. Setelah ia ke masjid sayyidina Abbas di Aljazair. Lalu hijrah lagi ke Irak belajar ilmu tarekat. Ia baru pulang ke Indonesia lima tahun kemudian. Begitu pulang, kawan-kawannya menyarankan agar ia memperdalam lagi ilmu tarekat di Demak, Jawa Tengah.

Puas belajar agama, Saggaf kemudian mendirikan pesantren di kampong halamannya di Dompu, Nusa Tenggra Barat, dan juga pesantren di Surabaya. Sempat menjadi penceramah sampai ke negeri jiran., ia akhirnya hijrah ke Jakarta pada tahun 1980 dan mendirikan majlis ta’lim di Masjid Agung Bintaro, Tangerang.

Di Parung, Saggaf tak cuma mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya, tapi juga pendidikan umum sesuai dengan standar Departemen Pendidikan Nasional mulai dari tingkat tsanawiyah (SLTP), aliyah (SMU) hingga perguruan tinggi. Para santri juga diharuskan mampu berbicara bahasa Arab dan Inggris sehingga para guru terbaik didatangkan dari berbagai universitas. Santri-santri angkatan pertama yang sudah lulus juga diberi kesempatan mengajar di pondok.

Pesantren ini memang digratiskan seluruh biayanya namun bukan berarti para santrinya tidak diajarkan hidup mandiri. Setiap bulan, secara bergiliran mereka bertani dan mendaur ulang sampah. Hasilnya dibeli Habib dan uangnya diberikan kepada pengurus pesantren untuk biaya makan santri. Demikian pula hasil daur ulang sampah diberikan kepada pengurus pesantren untuk biaya pendidikan. Untuk menopang biaya operasional pondok, Habib mengandalkan hasil pabrik rotinya. Demikian pula sumbangan donatur tak bisa dikesampingkan. Banyak dermawan dari dalam maupun luar negeri membantu pondok. Bahkan ada sumbangan dari kalangan yang berbeda latar belakang agama. Gedung Universitas Habib Saggaf berdiri atas sumbangan Yayasan Budha Tzu Chi. Gedung pertemuan juga sumbangan Gandhi Sevalokayang, komunitas keturunan India di Indonesia.

Semangat kebersamaan dan keberagaman memang memancar kuat dari pesantren ini yang bisa dijadikan sebuah model pesantren yang berpihak pada kaum lemah dan terpinggirkan. (TEMPO, 5 November 2006).

Sumber: Majalah Tempo

Leave a Reply

Label