ALT_IMG

Featured 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Minggu, 07 Agustus 2011

Pesantren Annur, Pendowoharjo, Sewon, Bantul

0 komentar
Pesantren Annur terletak di kampung Ngrukem, kelurahan Pendowharjo, kecamatan Sewon, Bantul, kira-kira 10 km dari jantung kota Yogyakarta. Lokasi ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat, kecuali 400 meter jalan masuk ke kompleks pesantren.

Dirintis pada tahun 1964, pada mulanya pesantren ini hanya berbentuk pengajian yang diselenggarakan di rumah Kyai Nawawi Abdul Aziz, seorang alim kelahiran Kutoarjo tahun 1925. Di masa mudanya, ini pernah menuntut ilmu di beberapa pesantren, antara lain pesantren al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Selam di Krapyak, Nawawi berhasil menghafal al-Qur'an yang kemudian diperdalam lagi selama tiga tahun di pesantren Yanbu'ul Qur'an Kudus, pimpinan Kyai Arwani. Di Krapyak itu pula Kyai Nawawi diambil menantu Kyai Munawwir, pengasuh pesantren.

Selesai belajar di pesantren, Kyai Nawawi kembali ke Kutoarjo dan mendirikan madrasah. Tidak begitu lama ia kembali ke Krapyak sambil bekerja di Departemen Agama Bantul. Ia lalu bermukim di Ngrukem dan mengadakan pengajian di rumahnya, antara lain pengajian al-Qur'an (qiraat dan hafalan), pengajian kitab dan pengajian umum.

Sejak dirintis tahun 1964 sampai tahun 1977, tempat pengajian masih menggunakan rumah Kyai Nawawi sendiri. Para santri yang ingin mondok, khususnya putera, ditempatkan di masjid Ngrukem, sedang yang puteri ditampung di rumah. Baru pada bulan April 1978 berhasil diresmikan pemakaian mushollah dan asrama putri.

Tahun 1982/1982 selain mushola ukuran 7x7 m dan asrama puteri bertingkat satu ukuran 9 x 4.5 m, pesantren juga memiliki asrama putera yang dilengkapi dengan dua lokal kamar, serambi, dapur, kamar mandi dan kakus serta tempat wudlu. Di luar kompleks pesantren, masih ada satu bangunan yang digunakan untuk madrasah diniyah. Kompleks pesantren sendiri menempati tanah seluas 500 m2.

Santri mukim yang belajar di sini berjumlah 101 orang, 67 putera dan 34 puteri, tahun 1986. Sebagian besar datang dari Yogyakarta dan Kutoarjo. Santri non mukim berjumlah 250 orang, terdiri dari 150 putera dan selebihnya puteri. Hampir separo dari santri mukim mengaji sambil sekolah diberbagai sekolah di luar pesantren. Di samping para santri tersebut, masih ada sejumlah 180 orang murid madrasah diniyah.

Para santri selain belajar qiraat dan hafalan al-Qur'an, juga belajar mengaji berbagai kitab secara tradisional. Antara lain Fathul Qarib, Washoya, Ta'lim Mutaallim, Aqidatul Awam dan Khulasoh Nurul Yaqin. Para murid madrasah diniyah pun diberika pelajaran dari kitab-kitab.

Untuk mengasuh santri, Kyai Nawawi dibantu oleh istrinya, di samping lima orang santri putera dan lima orang santri puteri yang sudah senior, mereka disebut badal kyai. Sedangkan madrasah ditangani oleh 15 orang tenaga pengajar yang seluruhnya swasta.

Visi dan Misi Pesantren
  1. Mencetak generasi Huffadzul Qur’an yang mampu menjunjung tinggi warisan Nabi
  2. Membangun kemampuan santri yang berjiwa IMTAQ dan berwawasan IPTEK.
  3. Membangun santri yang berakhlaqul karimah, bertaqwa, bermental kuat dan bertanggungjawab
Perkembangan Pesantren
Dalam pengelolaannya, pondok pesantren An Nur yang merupakan salah satu pondok pesantren yang bernafaskan Nahdlotul ‘Ulama(NU) pada awal berdirinya adalah milik keluarga. Kemudian setelah mengalami perkembangan yang sangat pesat, maka berubah menjadi yayasan dengan dibentuknya Yayasan Al Ma’had An Nur yang langsung dipimpin juga oleh Bapak KH. Nawawi Abdul Aziz.

Sebagai sebuah lembaga yang telah memiliki banyak santri, pesantren ini juga melengkapi dirinya dengan beberapa lembaga yang bernaung dibawah Yayasan Al Ma’had An Nur, antara lain TPQ An Nur, Madrasah Tsanawiah, Madrasah ‘Aliyah Umum dan Keagamaan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an dan Madrasah Diniyah Al Furqon.
Yayasan Al Ma’had An Nur memiliki 151 tenaga ustadz dan dosen, dengan perincian khusus mengajar di pondok, 29 ustadz dan ustadzah madrash diniyah, 38 ustad dan astadzah yang mengajar di Madrasah formal, 15 ustadz dan ustadzah TPQ serta 45 orang dosen yang mengajar di STIQ. Dari jumlah tersebut, hanya 45 ustad dan ustadzah yang bermukim di pondok pesantren An Nur tanpa adanya honor dari pondok atau pemerintah.

Sedangkan santrinya berjumlah sekitar 73 santri yang datang dari berbagai penjuru Indonesia mulai dari pulau Sumatra, Sulawesi, Bali, dan NTB. Adapun santri yang bermikim di Pondok Pesantren An Nur sekarang berjumlah sekitar 635 orang santri dan selebihnya adalah santri non mukim atau dikenal dengan sebutan santri kalong.

Pondok Pesantren An Nur Ngrukem telah mampu menelorkan banyak alumni yang berkualitas yang tersebar dimana-mana. Ada yang mendirikan pondok pesantren sendiri, ada juga yang ikut berkiprah dalam kancah perpolotikan Indonesia. Disamping itu, Pondok Pesantren An Nur telah mampu mencetak sebanyak 303 orang hafidz dan hafidzoh.

Model Pendidikan

Dalam perjalannanya, pondok pesantren An Nur memiliki beberapa model pendidikan tergantung pada masing-masing lembaga yang ada di pondok pesantren ini, yaiu:

a. Marhalah Bi an-nadazri

Tingkatan ini diperuntukan bagi santri-santri yang tidak menghafal Al Qur’an, dengan penekanan pada pematangan tajwid tartil dan juga makhorijul huruf dan pendalaman kitab-kitab kuning. Setiap harinya para santri yang tidak menghafal Al Qur’an, menyetorkan bacaan Al Qur’an secara nadzri kepada para khotim bil hifdzi yang masih bermukim di pondok pesantren.

b. Mahalah Tahfidz

Kelompok ini khusus bagi santri yang berminat menghafalkan Al Qur’an 30 juz, dimana saat ini tidak kurang dari 600 santri putra dan putrid yang belajar untuk menghfalkan Al Qur’an di pesantren ini. Dalam proses penghafalan para santri diasuh langsung oleh KH. Nawawi Abdul Aziz dengan metode bimbingan tahfidz. Disamping itu untuk mengetahui sejauh mana tingkat penguasaan hafalan para santri, maka setiap 6 bulan sekali diadakan Tes Peringkat Tahfidzul Qur’an dan Musabaqoh Hifdzil Qur’an (MHQ).

c. Marhalah Qiro’ah Sab’ah

Marhalah ini diperuntukan bagi para khotimin-khotimat (yang telah hafal Al Qur’an) yaitu mempelajari berbagai bentuk bacaan qiro’ah tujuh, sebagai program lanjutan bagi para santri telah hafal Al Qur’an, marhalah ini ini ditangani langsung pengasuh (KH. Nawawi Abdul Aziz). Madzhab yang dipakai dalam Qiro’ah As Sab’ah adalah madzhab hizril amani yang beliau terima dari Syaikh KH. Arwani Amin Kudus.

d. Madrasah Diniyah

Secara garis besar, Madrasah Diniyah terbagi menjadi menjadi dua cabang yaitu, Madrasah Diniyah yang diperuntukan bagi santri-santri Tahfidz (yang menghafal Al Qur’an) dan bagi santri-santri yang non-tahfidz. Tingkatan kelas Madrasah Diniyah ini pada dasarnya sama seperti Madrasah Diniyah pada umumnya yaitu tingkat ‘Ula dengan jenjang waktu 4 tahun, Wustho selama 2 tahun dan ‘Ulya dengan masa pendidikan selama 2 tahun.

e. Madrasah Formal

Pondok Pesantren An Nur telah memiliki Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK). Dengan fasilitas seadanya, para pengelola madrsah tetap berjuang dalam proses untuk mencapai tujuan dasar Pondok Pesantren An Nur. Dengan izin Allah SWT, Madrasah yang kami miliki mampu bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan diluar dan dalam kurun waktu 6 tahun, Madrash ini mampu mengantongi nilai tertinggi se Yogyakrta sebanyak tiga kali pada Ujian Akhir nasional dan semua siswanya lulus dengan nilai yang lumayan.

f. Sekolah Tinggi

Pondok Pesantren An Nur juga mampu mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an (STIQ) yang resmi dibuka pada tahun 2002 oleh menteri agama RI. Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur’an membuka 2 prodi: Tafsir Hadist (Ushuluddin) dan PAI (Tarbiyah). Kemudian tahun 004 dibuka program Ekstnsi dan program Diploma (DI dan D2).
Program Pengembangan
a. Mulai tahun 2004, pondok pesatren membangun mushollaa putrid berlantai tiga dan baru selesai 85%. Untuk itu, tahun 2006 ini telah direncanakan penyelesain kekurangan tersebut. Selain itu, pondok pesantren akan membangun gedung berlantai tiga yang terdiri dari kamar mandi, wc, tempat tidur serta ruang belajar bagi santri putra.

b. Adanya STIQ An Nur, diimana 70% mahasiswanya adalah para Hafidz (hafal Al Qur’an dan sedang menghafalkannya), yang saat ini baru membuka 2 prodi sehingga selain memaksimalkan prodi yang sudah ada juga perlu dibuka prodi yang lain yang jauh lebih bisa menjawab tantangan kemajuan zaman.

c. Program bidang ekonomi yaitu dengan meningkatkan yang dikelola Pondok Pesantren: mini market, jasa telekomunikasi, rental computer.
Program Unggulan
Secara garis besar, Pondok Pesantren An Nur memiliki program-program unggulan dalam bidang ilmu pengetahuan, bakat dan seni serta keterampilan. Adapun program-progam unggulan di bidang Pendidikan Diniyah yang dimiliki oleh Pondok Pesantren An Nur, antara lain :
  1. Tahfidzul Qur’an ( Program utama dengan target 3 tahun hatam dengan hasil yang baik )
  2. Qiro’ah As Sab’ah ( memakai madzhab Hirzil Amani )
  3. Fiqh dan Ushul Fiqh
  4. Ilmu alat
  5. Akhlaq
Sedangkan yang bergerak dibidang seni yaitu :
  1. Seni membaca Al Qur’an (Qiro'ah)
  2. Seni Hadroh  bagi santri putra 
  3. Qosidah Modern bagi santri putri
  4. Seni Kaligrafi
Dalam 3 hal yang tersebut di atas, Pondok Pesantren An Nur Ngrukem Bantul Yogyakarta telah memiliki nama yang cukup terkenal dalam event-event baik di tingkat Propinsi maupun Nasional, bahkan telah dua kali mengikuti event Internasional di bidang Tahfidzul Qur’an dan Tafsir.

Kontak
Pondok Pesantren An Nur, Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Pendiri                   : KH. Nawawi Abdul Aziz
Pemimpin               : KH. Nawawi Abdul Aziz
Santri Mukim         : 225 Laki-laki dan 220 Perempuan (2006-2007)
Alamat                   : Ngrukem, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta
Phone                    : 0274-6994262, 6994263
Fax                        : 0274-6469019
Website                  : www.pondok-ngrukem.net
Continue reading →
Sabtu, 06 Agustus 2011

Pesantren Al-Qur'an Wates (Pesawat), Kedung Pring-Giri Peni, Wates, Kulon Progo

3 komentar
Motivasi untuk mendirikan pesantren ini sebenarnya muncul ketika pendirinya, Kyai Chasan Tholabi, melihat kenyataan banyak anggota masyarakat Kulonprogo khususnya generasi muda Islam, yang belum menguasai bacaan al-Qur’an. Hal ini bahkan dijumpainya juga di kalangan pelajar sekolah agama baik negeri maupun swasta.
Berbekal ilmu yang ditimbanya dari Pesantren al-Qur’an Bustanul Qur’an wal Qiraah, Krapyak, Yogyakarta, selama 7 tahun; Pesantren Bustanu ‘Usyaqil Qur’an, Demak selama 3 tahun dam dari pesantren Watu Congol, Muntilan, selama setahun; Kyai Hasan (1970) mendirikan pesantren ini di sebuah desa yang terletak sekitar 30 km dari Yogyakarta. Kyai Hasan sendiri kelahiran Magelang tahun 1923.
Melihat usia pesantren yang masih relative muda dan sejak awal diarahkan untuk memberi pengajaran kepada masyarakata setempat, wajarlah kalau sebagian besar santri di ‘pesawat’ (istilah santri untuk menyingkat Pesantren Wates) ini adalah non mukim. Di samping belajar qiraat dan menghafal al-Qur’an, para santri juga belajar ilmu Fiqh, Akhlak, Tarikh, dan tasawuf dengan menggunaka system wetonan, balaghah, dan bandongan.
Meskipun tetap mengikuti tradisi pesantren, ‘Pesawat’ ini tidak urung mendapat sentuhan ‘pembaharuan’ karena dengan seringnya mengirim santri untuk mengikuti kursus dan latihan antara lain kursus pertukangan, perpustakaan, latihan perbengkelan, pendidikan dan latihan Kependudukan dan Keluarga Berencana, latihan usaha, Latihan Tenaga Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (LTP2M) dan lain-lain.
Pesantren sendiri menyelenggarakan berbagai latihan ketrampilan bagi santri dan masyarakat sekitar, antara lain kerajinan anyam-anyaman, latihan perbengkelan dan kursus menjahit. Sebagai kelanjutan kursus dan latihan tersebut, dewasa ini ‘Pesawat’ telah memiliki unit perbengkelan dan koperasi yang bergerak di bidang Industri kecil.
Dengan ‘Pesawat’ ini, Kyai Hasan Tholabi mengarap agar lahir kader-kader ulama yang ahli dalam al-Qur’an dan cakap dalam membina masyarakat. Maka, satu sarannya, pesantren harus berani membuka diri menerima nilai-nilai baru, selama bermanfaat.

Kontak Pesantren
Pendiri                        : Kyai Chasan Tholabi
Pemimpin                   : KH Ahmad Su’adi
Santri Mukim            : 10 (Laki-laki) dan 10 (Perempuan)
Alamat                       : Kedungpring – Giripeni, Kecamatan Wates, Kulon Progo
Telpon                       : 0271-773814

Continue reading →
Senin, 01 Agustus 2011

Warga DKI Padati Bazar Ramadhan Benhil

0 komentar
P3M, JAKARTA — Setiap datang bulan Ramadhan, di kawasan Pasar Bendungan Hilir (Benhil) sejak 1990-an selalu muncul "pasar dadakan". Umurnya sekitar satu bulan. Namanya Bazar Ramadhan di Pasar Benhil.
Sejak Senin (1/8/2011) sore kemarin, warga Ibu Kota dan sekitarnya yang ingin mencari takjil atau makanan untuk berbuka puasa sudah memadati kawasan di depan Pasar Benhil itu, terutama sekitar pukul 17.00. Akibatnya, Bazar Ramadhan yang telah dirintis oleh Forum Peduli Benhil (FPB) sejak 1990-an itu membuat kawasan tersebut sering macet. Para pedagang di bazar tersebut umumnya memiliki KTP warga Benhil.
Hidayat AM, Ketua FPB, kepada Kompas.com mengatakan, para calon pedagang di bazar diminta menyetorkan uang muka 25-50 persen dari harga Rp 1,5 juta-Rp 2 juta sebagai uang sewa tenda. Ukuran tenda 4 meter x 50 meter. Tenda itu, kata Hidayat, bisa menampung 100 pedagang tetap dan musiman. 
Hidayat mengatakan, Bazar Ramadhan Benhil dibentuk dengan tujuan menyosialisasikan masyarakat Benhil, meningkatkan perekonomian, serta membantu dua yayasan yatim piatu di sekitar Benhil.
"Bazar Ramadhan ini juga khusus dibuat di bulan Ramadhan dengan momen khusus karena para pedagang di bazar ini rata-rata pedagang tetap yang telah jualan makanan, minuman, serta kue-kue sejak beberapa tahun di Bazar Benhil ini," ujarnya.
Pada hari pertama kemarin, para pengunjung dimanjakan oleh berbagai macam kue tradisional, seperti lopis, lapis, onde-onde, kolak, cucur, ketan, bika ambon, pempek, ongol-ongol, dan kue-kue lain sebagai hidangan untuk berbuka puasa. Ada juga pedagang yang menjual lauk-pauk, seperti masakan Padang, nasi kebuli beserta gulai kambingnya, ikan bakar, dan nasi uduk plus semur jengkolnya.
Menurut Hidayat, Bazar Ramadhan dibuka sekitar pukul 12.00 dan tutup pukul 19.00. Tendanya sengaja didirikan di tepi jalan untuk menarik perhatian orang yang lewat dari arah Sudirman menuju Pejompongan, Tanah Abang, dan sebaliknya.
Suasana di sekitar Pasar Benhil yang terlihat ramai, apalagi saat menjelang buka puasa, menyebabkan kemacetan di depan Pasar Benhil dari arah Sudirman menuju Pejompongan dan Tabah Abang. Hal itu akibat para pembeli atau pengunjung Bazar Ramadhan memarkir kendaraan di tepi jalan sepanjang Pasar Benhil.
Banyaknya pengunjung membuat arus lalu lintas di sepanjang Pasar Benhil ramai dan padat. Namun, pihak FPB sudah mengadakan koordinasi dengan kepolisian serta juru parkir di sekitar Pasar Benhil agar lalu lintas di sekitar jalan lancar.

Sumber: Kompas
Continue reading →

Tradisi Ramadhan Padukan Budaya Jawa, Arab, dan China

0 komentar
Dugderan, pesta tradisi rakyat Semarang sebagai penanda datangnya bulan suci Ramadhan, ditutup dengan sebuah karnaval khas yang mengusung warak ngendog, Minggu (31/7) sore. Pesta tradisi itu menyedot perhatian puluhan ribu warga karena sukses menampilkan parade seni budaya asli Kota Semarang dengan memadukan budaya Arab dan China.
"Sejak puluhan tahun lalu, dugderan sudah menjadi simbol ungkapan sukacita warga Semarang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Oleh sebab itu, dalam karnaval kali ini kami tampilkan kearifan lokal yang menjadi ciri perkembangan seni budaya Semarang," ujar Wali Kota Semarang Soemarmo, saat mengawali prosesi karnaval dugderan.
Dibanding tahun-tahun sebelumnya, karnaval dugderan tahun ini terasa sangat berbeda. Untuk parade seni budaya, kali ini dibagi menjadi dua bagian. Sesi pertama dilakukan pagi hari dan khusus diikuti anak-anak dan pelajar, mulai TK hingga SMP.
Karnaval dimulai dari Lapangan Simpanglima dan berakhir di Jalan Pahlawan, halaman Kantor Gubernur Jawa Tengah. Sesi kedua, karnaval dugderan utama dengan inti prosesi dilakukan di Masjid Agung Semarang atau Masjid Kauman. Berangkat dari Balai Kota Semarang, Jalan Pemuda, menuju Masjid Kauman dan berakhir di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
Beragam tarian dan arak-arakan warak ngendog mengawali prosesi keberangkatan peserta karnaval. Diikuti tari-tarian Arab dan China. Tak ingin kalah, parade hasil karya seniman lokal dan masyarakat Semarang pun turut tampil di karnaval. Tak pelak, sepanjang Jalan Pemuda hingga Masjid Kauman arus lalu lintas menjadi padat dan macet.
Imam Besar Masjid Kauman KH Ahmad Naqib Nur menuturkan, dugderan bukanlah penentu awal Ramadhan. "Supaya warga tidak bingung, seusai seremoni dugderan, kami menyampaikan agar tetap menunggu pengumuman resmi dari pemerintah," ujarnya.
Selanjutnya, rombongan karnaval melanjutkan perjalanan menuju MAJT. Di masjid termegah se-Jateng itu Wali Kota menyerahkan suhuf halaqah ulama kepada Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo yang berperan sebagai RMT Probo Hadikusumo.
Perpaduan tiga budaya Jawa, China, dan Arab yang bertemu pada acara dugderan Semarang sungguh merupakan perpaduan yang harmonis, baik dilihat dari sisi tarian maupun busana para peserta pawai dugderan.
Selain dimeriahkan dengan tarian khas Kota Semarang, dugderan juga menyuguhkan aksi barongsai, rombongan sepeda onthel, drumband dari Akpol Semarang, kereta kencana yang dikendarai Wali Kota Semarang, prajurit berkuda, 80 warak ngendog, dan 80 bendi yang dikendarai para camat dan pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD).
"Kami ingin dugderan bisa langgeng sebagai tradisi karena dugderan memiliki nilai kebersamaan, yakni umat Islam dengan umat yang lain," tutur Wali Kota Semarang Soemarmo.
Dijelaskannya, dugderan yang digelar setiap tahun itu telah menjadi ikon wisata Kota Semarang yang diharapkan dapat menyedot baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang, Kasturi, mengatakan, tiga akar budaya yakni Jawa, China, dan Arab sangat kental terlihat dalam pawai dugderan kali ini.


"Khusus untuk kereta kencana, pada dugderan tahun lalu berasal dari Yogyakarta. Untuk tahun ini diambil dari Surakarta. Jumlah warak ngendog dan bendi pun menjadi jauh lebih banyak," tutur Kasturi. (Pudyo Saptono) 


 


Sumber: Suara Karya
Continue reading →

Label