ALT_IMG

Featured 1

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 2

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore..

Alt img

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 4

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

ALT_IMG

Featured 5

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna aliquam erat volutpat. Ut wisi enim ad minim veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat Readmore...

Jumat, 16 September 2011

Rohaniawan Lintas Agama Ingin Perubahan

0 komentar
P3M, JAKARTA- Rohaniawan lintas agama yang menggelar puasa dan doa bersama di depan Istana Merdeka selama tiga hari berturut-turut sejak Rabu (14/09/2011) hingga Jumat sore mengaku merindukan terjadinya perubahan pada bangsa ini, di tengah persoalan maraknya korupsi di pusat kekuasaan dan krisis moral para penguasanya.
"Selama tiga hari kami ikut berpartisipasi dalam doa dan puasa ini dengan keterbebanan bahwa kita rindu terjadi pembaharuan pada bangsa kita ini. Kami rindu ada perubahan pada bangsa ini," kata Pendeta Sapar Supit dari Rohaniawan Kristen.
Menurut Supit, para rohaniawan sebenarnya juga mendoakan para pejabat yang saat ini berkuasa agar mereka takut Tuhan, sehingga selalu memegang amanah rakyat. "Melalui doa dan puasa, kami berharap Tuhan akan mendengar," katanya.
Supit mengatakan, ketika kerinduan akan perubahan pada bangsa ini dibangun rohaniawan lintas agama, maka yang terjadi adalah representasi keinginan rakyat Indonesia yang sesungguhnya juga ingin bangsa ini berubah. Tak lagi terpuruk akibat korupsi para penguasanya.

Sumber: KompasDotcom
Continue reading →
Rabu, 07 September 2011

Operasi “Keadilan” yang Tidak Adil

0 komentar
Memeriksa KTP dan mengharuskan penduduk kota memilikinya adalah wajar dan biasa saja.

Yang menjadi soal dengan operasi Justisia adalah terasa ketidakadilan dan bias sosialnya, karena dari tempat-tempat operasinya, nampak yang berupaya dijaring adalah masyarakat berpenghasilan bertingkat pendidikan rendah.

Operasi itu barangkali berguna untuk menertibkan administrasi kependudukan, tetapi tidak akan menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan jumlah penduduk perkotaan.

Ada persepsi salah seolah-olah yang pindah ke kota itu hanya orang miskin dan tidak terampil. Padahal warga dari semua kalangan pindah ke kota atau ke kota yang lebih besar, mencari peluang kehidupan lebih baik. Para sosiolog menyebut ini mobilitas fisik dan sosial ekonomi. Para ekonom menetapkan ini pilihan rasional, karena para migran itu sebenarnya berhitung untung-rugi.

Kendati banyak orang miskin di kota, lebih banyak orang miskin di desa. Di kota terdapat kesempatan, dibandingkan dengan desa yang adem-ayem tanpa peluang sosial-ekonomi. Memang orang tidak selalu berhasil di kota, dan semuanya harus melalui kompetisi. Justru semangat dan kondisi kompetisi inilah yang membuat kota maju dengan inovasi-inovasi.

Bukan hanya Jakarta yang menjadi tujuan migrasi. Semua kota besar, dan bahkan menengah, di Indonesia menjadi tujuan migrasi sementara (untuk pindah lagi ke kota yang lebih besar) atau tetap. Banyak dari kota-kota di provinsi lain bahkan tumbuh dengan tingkat yang lebih tinggi daripada Jakarta. Masalahnya bukan tidak ada upaya membangun kota atau provinsi lain, tetapi betapapun mereka berusaha, tidak ada yang dapat menyaingi “efisiensi” dan “kelebihan kompetitif” relatif Jakarta.

Tingkat pertumbuhan ekonomi Jakarta selalu di atas tingkat pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional. Sedangkan tingkat pertumbuhan penduduk Jakarta selalu lebih kecil daripada tingkat pertumbuhan rata-rata nasional. Sangat mungkin tingkat pertumbuhan ekonomi semua kota besar lebih besar daripada tingkat pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional. Menolak migrasi desa-kota dalam keadaan demikian berarti sikap egois tak mau berbagi surplus pencipataan kekayaan.

Apakah Jakarta sudah terlalu padat penduduk sehingga kumuh dan harus menolak pertambahan penduduk? Kekumuhan terjadi bukan karena kepadatan penduduk, melainkan karena ada kesenjangan antara kepadatan penduduk dan kepadatan prasarana serta kemampuan kota melayani penduduknya. Karena itulah kita perlu membangun prasarana lebih baik dan meningkatkan daya dukung kota, sebanding dengan tingkat pertumbuhan ekonominya, untuk melayani pertumbuhan penduduk. Perlu dana banyak dan efisien. Jangan korupsi!
Continue reading →
Selasa, 06 September 2011

Seratus Tahun ‘Ngalap Berkah’ di Ponpes Lirboyo

0 komentar
Sedikitnya 9.000 santri Ponpes Lirboyo Kediri bersama warga setempat mengkuti Salat Id di Masjid Besar AL Hasan, Rabu (31/8). Ada tradisi yang tetap ditegakkan selama seratus usai Salat Id bagi para santri.
Mereka tak lekas meninggalkan masjid meskipun salat dan khotbah selesai. Ribuan santri berjubel menunggu Kiai Idris duduk di kursi samping tempat imam guna menunaikan ritual ngalap berkah dengan cara sungkem.
“Sungkem memiliki makna lebih dari meminta maaf. Para santri mencari berkah (ngalap berkah) dari sungkem tersebut,” tutur Muthi’ulloh, Pengurus Santri Putra Ponpes Lirboyo Kediri. Ia pun menambahkan tradisi sungkeman hanya dilakukan para santri putra saja pada Kiai Idris. “Bagi santri putri tidak diperkenankan, karena bukan muhrim (tidak memiliki hubungan darah),” tambahnya.
Tradisi ngalap berkah dengan cara sungkem pada kiai telah dilakukan para santri Ponpes Lirboyo sejak zaman KH Abdul Karim, pendiri ponpes. “Sejak Kiai Abdul Karim hingga Mbah Kiai Idris, tradisi sungkem telah dikakukan para santri lepas Salat Jumat dan Id,” tutur Muthi’.
Ponpes Lirboyo sendiri didirikan tahun 1910 oleh KH Abdul Karim, seorang alim dari Magelang Jawa Tengah. Sejak KH Abdul Karim menjabat sebagai pengasuh, tradisi ngalap berkah telah dipertahankan hingga generasi ketiga, KH Idris Marzuqi. Terhitung 101 tahun sudah Ponpes Lirboyo menjalankan dan menjaga tradisi ngalap berkah.
Dengan ngalap berkah dipercayai ilmu yang telah didapatkan para santri di Ponpes Lirboyo dapat bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri dan keluarga, namun juga masyarakat ketika kelak para santri tersebut terjun ke masyarakat. “Kepandaian para santri yang didapat di pondok tidak seberapa, tapi setelah mendapat berkah dari kiai. Harapannya saat tamat belajar dapat mendirikan pondok di kampung halaman,” ujar Muthi’.
Selain itu, ngalap berkah juga untuk mencari kemantapan ilmu yang didapat. “Kadangkala ada santri yang pandai di pondok, tapi jarang ngalap berkah ke kiai. Setelah pulang ke rumah, ilmu yang didapatnya menjadi sia-sia. Ada juga santri dengan kemampuan pas-pasan, tapi rutin sungkem. Setelah pulang kampung mampu mendirikan pondok. Itulah namanya mendapat barokah dari kiai,” tambahnya.
Tradisi khas Ponpes Lirboyo selain sungkeman saat Hari Raya Idul Fitri adalah sowan. “Sebenarnya, selain sungkem di masjid. Ada sowan ke ndalem kiai yang dilakukan para santri hari raya pertama Idul Fitri. Biasanya, setelah itu para santri mudik ke kampung halaman masing-masing,” tutur Muthi’.
Jika dalam istilah masyarakat umum, sowan dapat diartikan dengan bertamu. Namun, istilah sowan berlaku bagi keluarga kiai yang memiliki pondok pesantren. Sebutan sowan atau istilah populernya saat ini ‘open house’ hanya berlaku bagi para santri atau alumni santri pada keluarga kiai yang pernah diikutinya.
Selain sungkem dan sowan, kegiatan lain yang dilakukan para santri dan keluarga kiai adalah ‘nyekar’ ke makam para kiai terdahulu di Ponpes Lirboyo. “Istilah ‘nyekar’ untuk para santri, namun sebutan bagi keluarga kiai adalah dzuriah,” ucap Muthi’. Ia pun menjelaskan bahwa ritual ‘tabur bunga’ ke makam dilakukan sore hari sebelum malam takbir, ketika pagi hari lepas Salat Id keluarga kiai melakukan dzuriah.*


Continue reading →

Pesantren Al Ihya: Kami Tak Keberatan Soal GKI Yasmin

0 komentar
Pesantren Al Ihya Bogor Jawa Barat menegaskan pihaknya tak keberatan dengan keberadaan bangunan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Taman Yasmin di dan membantah klaim dari Walikota Bogor soal penentangan keberadaan gereja tersebut oleh pihak Pesantren Al Ihya.
Pimpinan Pesantren Al-Ihya, Kiai Toto Mustofa menjelaskan, pihaknya mendambakan ketentraman di setiap lapisan masyarakat yang dapat hidup damai dalam kemajemukan. "Sepanjang itu sesuai dengan hukum, kenapa kami harus merasa keberatan? Kecuali kalau pembangunan gedung itu terbukti ada manipulasi hukum. Apalagi kalau pembangunan gereja itu sifatnya liar,” ujarnya.
Kiai Toto pun bahkan mengingatkan bahwa mesjid pun dapat digugat jika melanggar hukum. “Jangankan pendirian gereja, pendirian masjid pun dapat kami gugat kalau nyata-nyata dibangun di atas lahan milik orang lain. Atau pun menjadi masjid yang sifatnya memecah belah umat. Jangankan gereja, masjid pun bisa kami protes kok. Masjid berpotensi memecah belah umat akan kami labrak. Jangankan gereja, gitu," tegasnya.
Bahkan dirinya juga mengaku seringkali mengundang tokoh-tokoh dari agama lain untuk menyambangi pesantrennya. Tujuannya untuk menjalin kebersamaan dan memperkuat hubungan yang sudah terjalin baik selama ini. Hal ini dibenarkan oleh Juru Bicara GKI Yasmin, Bona Singgalingging yang mengatakan bahwa Pesantren Al-Ihya bersikap koperatif dan bersahabat. Bahkan belum lama ini jemaat GKI Yasmin diundang dalam pertemuan silaturahmi.
"Kiai Toto tetap pada posisinya selama ini. Tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh Walikota Bogor Diani Budiarto. Beliau juga tidak keberatan sama sekali dengan berdirinya bangunan gereja di Jalan Abdullah bin Nuh itu. Yang penting dari pertemuan tadi adalah beliau menegaskan posisinya bahwa apa yang digembar-gemborkan oleh Walikota Bogor adalah kebohongan belaka. Karena Kiai Toto nampak menyambut kami dengan hangat sejak di teras rumahnya, dan ketika pulang pun kami dirangkul oleh beliau dan dikatakan sebagai sahabat," ungkapnya.
Jika dalam kalangan masyarakat beragama sudah tidak mempermasalahkan lagi mengenai hal ini, kini ditunggu kinerja dan langkah pemerintah, apakah berani atau tidak untuk memindak tegas terhadap setiap pejabat negara yang menghalangi kebebasan beragama seperti Walikota Bogor.



Sumber: Jawab News
Continue reading →

Label